DPDIMMMALUKU — Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Teknik Universitas Pattimura (UNPATTI) menggelar Kajian Futuristik Kepemimpinan dan Struktural Organisasi dengan mengangkat tema “Ketika Jabatan Lebih Besar daripada Tanggung Jawab: Membongkar Mentalitas Formalitas dalam Organisasi.” Kegiatan berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, bertempat di Pendopo UNPATTI dan diikuti oleh kader IMM.
Kajian tersebut menjadi ruang refleksi bagi kader untuk memahami kembali makna kepemimpinan, struktur organisasi, serta tanggung jawab yang melekat pada setiap amanah kepemimpinan. Diskusi tidak hanya membahas kepemimpinan secara konseptual, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas kehidupan organisasi dan tantangan kepemimpinan kader IMM saat ini.
Dalam pemaparannya, M. Zendy Alfiansyah, S.PWK, selaku Plt. Ketua Umum PK IMM Teknik UNPATTI sekaligus pemateri, menjelaskan bahwa kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan untuk mengarahkan, mengawal, dan mengoordinasikan seseorang maupun kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan juga merupakan kedudukan yang diperoleh melalui kepercayaan orang lain sehingga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Kajian kemudian membahas berbagai tipe kepemimpinan, di antaranya otokratis, militeristis, paternalistik, dan kharismatik. Setiap tipe memiliki karakteristik masing-masing dalam menjalankan organisasi. Dalam konteks organisasi IMM, kepemimpinan ideal diharapkan mampu memberikan pengaruh positif, terbuka terhadap kritik, memberikan ruang bagi kader untuk berkembang, serta menempatkan amanah dan tanggung jawab sebagai landasan utama kepemimpinan.
Selain itu, kajian menekankan pentingnya akhlak seorang pemimpin dengan merujuk pada keteladanan Rasulullah SAW, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi moral agar seorang pemimpin tidak hanya memiliki kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan integritas dan keteladanan.
Pembahasan selanjutnya diarahkan pada struktur organisasi IMM, mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Pimpinan Cabang (PC), hingga Pimpinan Komisariat (PK). Kader juga diajak memahami mekanisme permusyawaratan dalam IMM, mulai dari Muktamar, Tanwir, Musyda, Musycab, hingga Musykom, serta berbagai forum organisasi seperti rapat pleno, rapat BPH, rapat koordinasi bidang, rapat BPO, dan kerja gabungan.

Tema utama kajian kemudian dikaitkan dengan fenomena kepemimpinan dalam organisasi, khususnya mengenai kecenderungan munculnya mentalitas formalitas, ketika jabatan dan posisi struktural lebih menonjol dibandingkan tanggung jawab yang seharusnya dijalankan. Karena itu, jabatan dalam organisasi tidak semestinya dipandang sebagai simbol status, melainkan sebagai amanah untuk bekerja, melayani, mengelola, dan memastikan roda organisasi berjalan dengan baik.
Dalam diskusi tersebut, peserta diajak untuk melihat bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir dalam berorganisasi. Sebaliknya, jabatan merupakan amanah yang harus dibuktikan melalui kerja, tanggung jawab, kompetensi, dan kontribusi nyata. Seorang pemimpin dituntut mampu mengatur, mengelola, serta memastikan roda organisasi berjalan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan.
Menariknya, peserta kajian turut memberikan sejumlah gagasan sebagai solusi terhadap persoalan kepemimpinan dan mentalitas formalitas dalam organisasi. Syahrul menekankan pentingnya tanggung jawab sebagai dasar utama seorang pemimpin. Menurutnya, setiap amanah yang diberikan harus dijalankan dengan kesungguhan dan tidak berhenti pada status atau jabatan semata.
Sementara itu, Rayhan Putra Munir dan Andi Makasar menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk “selesai dengan dirinya sendiri.” Hal tersebut dimaknai sebagai kemampuan untuk mengenali, mengendalikan, dan memimpin diri sendiri sebelum mendapatkan amanah untuk memimpin orang lain.
Peserta lainnya, Jumran, menekankan pentingnya proses dalam membentuk kualitas seorang pemimpin melalui prinsip “terbentur, terbentur, dan terbentuk.” Menurut gagasan tersebut, pengalaman menghadapi berbagai persoalan dan tantangan organisasi merupakan bagian dari proses pembentukan karakter serta kematangan seorang pemimpin.
Selanjutnya, Alim menekankan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjalankan organisasi. Kemampuan tersebut mencakup bagaimana seorang pemimpin mengatur, mengelola, mengoordinasikan, serta menggerakkan seluruh unsur organisasi agar dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
Sementara itu, Rayhan kembali menekankan bahwa kepemimpinan harus teruji berdasarkan kompetensi dan rekam jejak (track record) yang baik. Menurutnya, jabatan tidak cukup menjadi ukuran kelayakan seseorang untuk memimpin. Seorang pemimpin harus memiliki kapasitas dan pengalaman yang dapat menjadi bukti bahwa dirinya mampu menjalankan amanah yang diberikan.
Rangkaian gagasan tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya menjadi pendengar dalam kajian, tetapi juga terlibat aktif dalam merumuskan perspektif mengenai kepemimpinan yang ideal. Diskusi menjadi ruang bagi kader untuk mengkritisi realitas organisasi sekaligus menawarkan gagasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan berorganisasi.
Melalui Kajian Futuristik ini, PK IMM Teknik UNPATTI mendorong kader untuk tidak terjebak pada orientasi jabatan dan formalitas struktural. Kepemimpinan hendaknya menjadi ruang pembuktian atas kapasitas, integritas, kedewasaan, dan pengabdian seorang kader.
Jabatan bukan tentang seberapa tinggi posisi seseorang dalam struktur organisasi, tetapi tentang seberapa besar tanggung jawab, kompetensi, proses, dan kontribusi yang mampu diberikan untuk kemajuan organisasi.






