DPDIMMMALUKU — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Keperawatan Masohi menggandeng Himpunan Mahasiswa Program Studi Keperawatan Masohi (HIMA Prokep Masohi) dalam kegiatan sosialisasi organisasi kepada mahasiswa baru Program Studi Keperawatan Masohi, Poltekkes Kemenkes Maluku, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di ruang mushola Program Studi Keperawatan Masohi tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa baru. Selain menjadi ruang pengenalan IMM kepada mahasiswa, kegiatan ini diarahkan untuk memperkenalkan lebih jauh keterhubungan antara gerakan mahasiswa, pengembangan kapasitas diri, pengabdian masyarakat, serta jejaring Muhammadiyah di bidang kesehatan.
Kolaborasi dengan HIMA Prokep Masohi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. HIMA Prokep tidak hanya menjadi mitra dalam menjangkau mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan kebutuhan pengembangan mahasiswa keperawatan dengan pengalaman organisasi dan pengabdian yang ditawarkan melalui IMM.

Ketua Panitia Rekrutmen Darul Arqam Dasar (DAD) IMM PK Keperawatan Masohi, Fadilan, yang juga merupakan Ketua HIMA Prokep Masohi, dalam pengantarnya menyampaikan pengalamannya selama menjalani proses kaderisasi di IMM. Dalam kesempatan tersebut, Fadilan sekaligus mewakili Ketua PK IMM Keperawatan Masohi, Kaliva Rahareng, yang turut hadir dalam kegiatan.
Fadilan menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam IMM membuka ruang pengalaman yang lebih luas selama menjadi mahasiswa, khususnya dalam kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, proses di IMM memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman melalui berbagai program kesehatan dan kegiatan pengabdian yang tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui aktivitas perkuliahan.
“Ketika bergabung di IMM, ruang untuk belajar dan mengembangkan diri menjadi semakin terbuka. Ada banyak pengalaman dalam kegiatan kesehatan dan pengabdian langsung kepada masyarakat yang saya dapatkan selama berproses di IMM,” ujar Fadilan.

IMM sebagai Ruang Pengembangan Kapasitas Mahasiswa
Materi berikutnya disampaikan Ketua Bidang Organisasi PC IMM Maluku Tengah, Dar Da’i Latue, yang juga merupakan Ketua BEM Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Said Perintah Masohi.
Da’i mengajak mahasiswa baru untuk melihat kehidupan kampus tidak hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai fase penting untuk membangun kapasitas kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa membutuhkan ruang belajar tambahan di luar kelas agar mampu mengembangkan kemampuan interpersonal, kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan bekerja bersama orang lain.
Organisasi mahasiswa dinilai menjadi salah satu ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa menguji pengetahuan dan kemampuan mereka dalam situasi nyata.
Da’i sekaligus memperkenalkan posisi IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak pada ranah keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, termasuk bagaimana IMM dapat menjadi ruang kaderisasi bagi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi kesehatan.

Mengenalkan Kekuatan Muhammadiyah dan Jejaring Kesehatan
Sementara itu, Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Maluku Tengah, Ramadhan Irhami Latuconsina, mengarahkan materi pada pengenalan Muhammadiyah sebagai gerakan yang memiliki jaringan amal usaha dan sumber daya yang luas.
Ramadhan memperkenalkan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berkembang di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan bidang lainnya. Ia menekankan bahwa keberadaan AUM tidak hanya menunjukkan skala organisasi, tetapi juga menjadi instrumen pelayanan dan pengabdian Muhammadiyah kepada masyarakat.
Khusus pada sektor kesehatan, mahasiswa diperkenalkan dengan keberadaan rumah sakit, klinik, dan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan Muhammadiyah-‘Aisyiyah sebagai bagian dari ekosistem pelayanan kesehatan Persyarikatan.
Muhammadiyah sendiri terus melakukan penguatan ekosistem data kesehatan melalui SehatMu, yang dikembangkan sebagai portal integrasi fasilitas layanan kesehatan Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah dan Klinik Muhammadiyah.
Ramadhan juga mengangkat pengalaman keorganisasiannya serta jejaring alumni IMM yang berkembang di Maluku Tengah, termasuk mereka yang kemudian berkiprah dalam dunia profesional. Hal tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa proses kaderisasi mahasiswa dapat berlanjut menjadi jejaring sosial dan profesional setelah seseorang menyelesaikan masa studinya.
Dalam pemaparannya, ia turut menyampaikan informasi yang pernah diberitakan mengenai posisi Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan terkaya keempat di dunia berdasarkan pemeringkatan Seasia Stats. Namun, informasi tersebut merupakan pemeringkatan eksternal yang juga pernah diberi catatan oleh internal Muhammadiyah terkait perlunya verifikasi data aset.

Menghubungkan Ilmu Keperawatan dengan Pengabdian
Pada sesi terakhir, Ketua Umum PC IMM Maluku Tengah, Amien Harmady Tuahan, yang akrab disapa Harmady, mengajak mahasiswa baru untuk melihat masa perkuliahan sebagai momentum membangun pengalaman dan kapasitas diri.
Harmady yang juga merupakan Bendahara Umum DPD IMM Maluku hasil pelantikan terbaru menekankan pentingnya mahasiswa memiliki ruang pengembangan diri di luar kegiatan akademik.
Menurutnya, pengembangan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kebermanfaatan di tengah masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar untuk dirinya sendiri. Ada ruang pengabdian yang perlu diisi dengan ilmu, kemampuan dan kepedulian yang kita miliki. Di situlah organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang untuk mempertemukan proses belajar dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Harmady.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya aspek pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks IMM, semangat tersebut memiliki keterhubungan dengan trilogi gerakan IMM yang mencakup keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.
Menurut Harmady, dimensi kemasyarakatan menjadi salah satu ruang penting bagi kader IMM untuk mengembangkan kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Bagi mahasiswa keperawatan, ruang tersebut memiliki relevansi yang kuat karena kompetensi yang dipelajari di bangku kuliah memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa keperawatan memiliki ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. IMM dapat menjadi salah satu ruang untuk memperluas pengalaman tersebut melalui kegiatan kemasyarakatan, pengabdian, kerelawanan, dan berbagai aktivitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujarnya.
Dari Kampus Kesehatan ke Jejaring Kemanusiaan
Harmady juga menyoroti keterhubungan antara kekuatan IMM sebagai organisasi mahasiswa dengan ekosistem Muhammadiyah yang memiliki jejaring luas di sektor kesehatan.
Menurutnya, mahasiswa dari perguruan tinggi negeri maupun kampus kesehatan tidak harus melihat organisasi hanya sebagai aktivitas tambahan selama kuliah. Organisasi dapat menjadi ruang untuk membangun jejaring, pengalaman, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja lintas bidang.
Ia mencontohkan keberadaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah sebagai salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana kompetensi kesehatan dapat dihubungkan dengan kerja-kerja kemanusiaan dan kebencanaan.
EMT Muhammadiyah bahkan telah memperoleh klasifikasi internasional WHO dan disebut sebagai EMT pertama dari Indonesia yang memperoleh klasifikasi tersebut. Proses klasifikasi tersebut merupakan bagian dari mekanisme penjaminan mutu EMT melalui penilaian terhadap standar internasional.
Dengan demikian, mahasiswa keperawatan diperkenalkan pada perspektif bahwa ilmu kesehatan dapat memiliki ruang pengabdian yang jauh lebih luas: dari ruang klinis, pelayanan masyarakat, hingga respons kemanusiaan dan kebencanaan.
Bagi IMM, pengenalan tersebut sekaligus menjadi upaya menunjukkan bahwa kaderisasi mahasiswa tidak berhenti pada aktivitas internal organisasi, tetapi diarahkan agar mahasiswa mampu membangun kompetensi dan menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat.

Bukan Sekadar Rekrutmen, tetapi Membuka Ruang Pengembangan Mahasiswa
Sosialisasi yang diinisiasi PK IMM Keperawatan Masohi tersebut kemudian ditutup dengan pengenalan program kaderisasi dan penerimaan anggota baru IMM. Mahasiswa juga diberikan brosur informasi pendaftaran sebagai bagian dari tindak lanjut kegiatan.
Namun, kegiatan tersebut tidak ditempatkan semata-mata sebagai agenda rekrutmen. PK IMM Keperawatan Masohi menempatkan sosialisasi sebagai ruang untuk memperkenalkan ekosistem gerakan yang dapat diakses mahasiswa, terutama mahasiswa keperawatan yang memiliki latar keilmuan dan potensi pengabdian di bidang kesehatan.
Kolaborasi dengan HIMA Prokep Masohi juga memperkuat pendekatan tersebut. Melalui keterlibatan organisasi mahasiswa program studi, pengenalan IMM tidak hanya berbicara mengenai organisasi, tetapi juga mengenai bagaimana mahasiswa dapat menemukan ruang belajar, membangun jejaring, mengembangkan kepemimpinan, dan mengamalkan ilmu melalui aktivitas kemahasiswaan dan kemasyarakatan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari keterlibatan mahasiswa baru dalam berbagai ruang pengembangan diri, sekaligus memperkuat sinergi antara organisasi mahasiswa, lingkungan akademik, dan gerakan sosial kemasyarakatan di Maluku Tengah.






